taki — Subjektif objektif, kaderisasi?

Disclaimer: tulisan ini berisi opini dan pandangan yang cukup ekstrim terhadap kaderisasi berdasarkan sudut pandang penulis. semo

Tadi banget gua abis ada meeting angkatan yang agendanya kahoot-an, bahas diklat terpusat (dikpus), dan orientasi jurusan (osjur). Materi kahootnya menarik banget, pertanyaannya cukup unexpected, salut deh buat penyusunnya.

Lanjut kebahasan dikpus sama osjur dan diakhiri sesi sharing, tapi sayangnya pada malu-malu buat sharing. Sharing-nya harusnya ngomongin apa sih? Momod minta buat sharing pengalaman panlap, tips trik bacot di forum, spoiler osjur, dll, tapi ya balik lagi tadi pada malu-malu jadi lebih banyak sunyinya sih.

Nah ketika lagi ga sunyi, si momod ngomong sebagai bentuk penyesuasanaan kali ya, ada statement yang cukup menarik buat gua yang kurang lebih gini “kita jangan mau jadi objek osjur…” wah ter-triggered lah gua, gua langsung bertanya-tanya kalo biasanya peserta osjur adalah objek, lantas bagaimana caranya untuk menjadi subjek? Gua langsung bercermin kepada osfak yang dilakukan pas awal masuk, tepatnya pas lagi OSKM. Waktu itu gua sama temen-temen gua disuruh baris sama kakak-kakak himpunan yang baik hatinya (gua percaya itu), setelah kami baris kakak-kakak himpunan ini mengelilingi barisan kami dengan sangat rapat (mirip hewan ternak dalam kandang kurang lebih, mungkin dikira biar ga kabur kali ya wkwk). Lalu komandan lapangan (danlap) dengan suara lantang berucap bahwasannya dia ingin memberi kami tantangan dan apakah kami ingin menerimanya, ya jelas secara spontan teman-teman gua jawab mau dan ternyata tantangannya adalah berbaris dalam waktu se-’optimis’ mungkin yang diurutkan berdasarkan NIM (wah bakan gua aja belom hafal NIM sendiri wkwk). Nah dengan waktu yang sangat optimis tersebut dan situasi angkatan yang masih baru ya, kami mengakhiri tantangan tersebut dengan hasil gagal karena melewati jumlah detik yang kakak-kakak himpunan hitung dengan lantang. Kerennya disini adalah, sebab telah mengulangi beberapa kali percobaan (gua bilang kakak-kakak himpunan baik hatikan?) dan terus gagal, akhirnya kami harus mendapat konsekuensi akibat kegagalan tersebut. Konsekuensinya cukup umum sih, yaitu nentuin ketua angkatan dan segala macam perangkat pendukungnya dalam jangka waktu sesuai kesepakatan. Osfak kali ini diakhiri dengan “siapa yang paling berani….” untuk menunjuk PJS angkatan dan doa.

Anyway sebelum lanjut gua mau berkomentar, kalo itu adalah tantangan yang bersifat sukarela mengapa harus ada hukuman? Kalo konteksnya tugas mungkin bisa ya.

Nah oke, balik ke subjektif objektif. Gua ga akan ngasih definisi gamblang mengenai apa itu subjektif objektif menurut gua, tapi di sini gua bakal ngasih contoh yang mungkin cukup bisa memberikan gambaran. Di sini gua ngeliat kalo objek berarti hanya terlibat dalam sesuatu atau bisa dibilang powerless. Contoh sederhana kalimat “saya membaca buku”, pada kalimat ini saya menempatkan sebagai subjek, membaca adalah predikat, dan buku objeknya. Kita bisa bilang kalo buku powerless terhadap saya karena buku ga bisa menolak apabila ia (buku) tidak mau dibaca oleh saya karena balik lagi buku adalah benda mati.

Dalam konteks kaderisasi subjek objek, gua melihat kemiripan (mungkin cocoklogi). Peserta kader sangat di-drive berdasarkan modul kader (RUP/RUK) yang telah disusun oleh pengkader. Peserta kader terlihat powerless karena tidak tahu menahu tentang apa yang akan dilakukan oleh pengkader, tentu segala jenis tugas dan hukuman telah dipikirkan oleh pengkader makanya gua bilang peserta kader relatif powerless. Kalo kita liat dari osfak yang gua tadi bahas, gua bisa bilang kalo saat osfak mereka (temen-temen gua) dengan mudah untuk menjadi objek kakak-kakak himpunan. Oke gua tunjukin, di awal osfak danlap memberikan tantang kepada kami, lalu karena temen-temen gua adalah objek maka temen-temen gua menerima tantangan tersebut (sesuai rencana pengader). Gua di sini ga nyalahin temen-temen gua karena itu jawaban spontan mereka dan mungkin mereka ga sadar akan apa yang mereka lakukan dan toh sudah berlalu (semoga dapat menjadi pelajaran). Nah kalo jadi subjek gimana? At least kami akan bertanya dulu sebelum menerima tantangannya, seperti apa bentuk tantangannya, kemudian mendiskusikannya dan memastikan urgensi dari tantangan tersebut (berpikir sebelum bertindak). Lalu apabila memang ga penting ya tolak saja tantangan tersebut, toh ga penting dan ga ber-urgensi. Bisa diliat perbedaannya? Ketika peserta kader menjadi subjek, mereka tidak hanya terlibat dalam jalannya kaderisasi, tapi ikut andil dalam menentukan flow dari kaderisasi tersebut (memiliki power). Dapatkah kalian membayangkan apabila saat itu kami kompak untuk menolak tantangan dari kakak-kakak himpunan? Mungkin mereka akan bingung apa agenda berikutnya, ya atau pada akhirnya mereka akan tetap memaksakan (dengan segala cara) agar tantangan tersebut berjalan wkwk. Mungkin ada beberapa dari kalian berpikir kalo nanti ga ada ketang dong? Ga ada PJS? Ga ada perangkat angkatan dsb. Kayanya itu engga juga sih, soalnya segala konsekuensinya juga bagian dari budaya anak TPB kok, jadi gua pikir cepat atau lambat bakal ada juga segala macam hal itu (tanpa harus osfak sekalipun).

Mungkin ada yang berpikir, ah bacot lu itu udah berakhir dan singkat banget kadernya, lagi pula bukan bentuk kaderisasi berkelanjutan yang osfak kemaren. Hmm oke. Kalo gitu gua bakal ngejelasin bagaimana cara menjadi subjek dalam konteks yang lebih berkelanjutkan (osjur). Sebelum gua lanjut menuliskan kesotoyan gua dalam konteks osjur, gua bakal nanya gini dulu. Berapa banyak dari kalian yang ga suka osjur? Ga suka dimarah-marahin? Dsb. gua yakin, karena udah survei secara informal juga, kalo ada (banyak bahkan) yang ga suka sama osjur, tapi terpaksa melakukannya. Gua berasumsi menengai alasan kenapa ada segelintir orang yang ga suka sama metodenya. Dugaan gua adalah mereka sebelum kuliah di ITB bukanlah anak yang sering dimarahi oleh yang memberinya makan dan uang (kehidupan), lingkungan rumahnya juga berbicara dengan santun lagi lembut, mereka sangat hidup dilingkungan yang mengenal adab dengan baik (tentu membentak strangers bukanlah adab yang baik), dsb. Gua ga bisa ngebayangin betapa kurang ajarnya oknum yang memarahi orang-orang yang tidak bersalah ini melebihi orang yang meberi mereka kehidupan. Oke mungkin di sini ada yang mau mendebat, tapi kan itu buat melatih mental mereka saat kerja, kekompakan angkatan, dll. Sayangnya, kali ini gua ga bakal menjawab debatan kalian, mungkin kalo mau diskusi lebih lanjut soal ini sabi kontak gua, dan gua saranin untuk stop baca di sini aja karena toh kalian ga bakal setuju dengan tulisan gua selanjutnya. Cukup kalian ngedumel, ngehujat, dll dalam hati atau di circle kalian juga gapapa wkwk. Karena itu di luar kemampuan gua.

Balik ke pertanyaan, bagaimana cara menjadi subjek dalam osjur dan kegiatan kaderisasi lainnya? Lagi, sebelum gua jawab, gua bakal ngejelasin tentang simbiosis mutualisme dalam ranah kaderisasi yang mungkin banyak orang tidak menyadari hal ini. Kenapa gua bilang simbiosis mutualisme? Karena dalam hal ini peserta kader maupun pengader saling lah membutuhkan. Sayangnya, sejauh ini banyak gua liat fenomena di mana orang-orang mikir kalo hanya peserta kader membutuhkan, sedangkan pengader tidak. Pernahkah kalian berpikir kalo pengader sangat butuh kalian, bahkan lebih dari kalian sendiri membutuhkan pengader. Gimana maksudnya? Langsung contoh aja, bisa ga sih kalian membayangkan kalo ketika osjur ga ada sama sekali peserta kader yang dateng, ngerjain tugas, dll satu angkatan kompak mogok osjur dengan alasan kalo mereka sepakat kalo mereka tidak ingin dimarah-marahi oleh orang yang tidak lebih terhormat dari penanggung kehidupan mereka. Bisa dibayangkan bahwa tidak ada penerus himpunan, bahkan pengader kalian sendiri yang bakal kewalahan dalam menjabat nantinya karena kurang orang. Pada titik ini mungkin pengader akan menyerah untuk memenuhi tuntutan peserta kader.

However, gua ambil simpulan pada akhirnya kalo kalian memaksa untuk menjadi subjek dalam kaderisasi akan banyak konsekuensi bagi kedua belah pihak yang mungkin akan mengubah budaya ITB itu sendiri. Jadi perlukan kita menjadi subjek dalam kaderisasi? Jawabannya ada ditangan angkatan kalian.

Tambahan, kalo kalian nanya jadi gua mendukung subjektif atau objektif dalam kaderisasi hmm, jawaban gua adalah subjektif, tapi sayangnya itu hanyalah imaji atau idealis. Maksudnya gimana? Ya coba renungkan bagaimana caranya menyatukan dengan kompak satu angkatan baru untuk melakukan suatu gerakan sama? Kaya bahkan menyatukan suatu angkatan adalah tujuan sepanjang kader bukan? Jadi tampaknya cukup sulit (mungkin mendekati mustahil) untuk menjadi subjektif sebagai peserta dalam suatu rangkaian kaderisasi.

taki merupakan tulisan yang berasal dari opini, perasaan, dan pengalaman gua terhadap suatu hal.

negasi dalam narasi

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.