taka — Kaderisasi dan relevansi

Kaderisasi sebagai ajang untuk membentuk insan kader yang sesuai dengan nilai-nilai kebutuhan organisasi. Pada proses pembentukan digunakan metode-metode tertentu yang dianggap paling baik oleh panitia. Tak jarang metode-metode ini digunakan bukan karena paling baik, tetapi karena tradisi yang seolah mewajibkan untuk selalu menggunakan metode tersebut dalam tiap kaderisasi.

Perlu diketahui dalam suatu dokumen perihal kaderisasi tertulis bahwa, secara psikologis kesadaran manusia akan cenderung menurun ketika berada dalam kerumunan orang. Pada prosesnya, kaderisasi melibatkan banyak orang sekaligus. Berkenaan dengan hal tersebut acap kali dijadikan alasan bagi panitia kaderisasi untuk menggunakan dan melakukan tradisi dengan harapan kesadaran peserta kader akan meningkat. Memang ketika tradisi sedang dieksekusi, kesadaran tiap-tiap peserta kader meningkat cukup signifikan. Sayangnya meningkatnya kesadaran peserta ini harus dibayarkan dengan sisi psikologis yang lain, yaitu traumatis.

Tak sedikit dan tak jarang peserta mengalami trauma setelah menjalani tradisi dari kaderisasi. Peserta yang mengalami trauma terhadap tradisi menyikapinya dengan dua pendekatan yang berbeda, yaitu melanjutkan untuk balas dendam dan yang lainnya meninggalkan serta cenderung menghindari segala hal terkait kaderisasi.

Seiring berjalannya kaderisasi, tak jarang pula peserta yang awalnya tidak menyukai tradisi kaderisasi bertransisi menjadi netral lalu cenderung mendukung kaderisasi. Dugaannya adalah panitia telah berhasil menanamkan nilai-nilai yang ingin diturunkan kepada peserta kader sehingga persepsi peserta kader dapat berubah selama keberjalanan kaderisasi.

Para pendukung kaderisasi memiliki pandangan bahwa kaderisasi penting karena perlu memiliki penerus organisasi yang memiliki nilai-nilai tertentu, oleh karenanya mereka menganggap kaderisasi merupakan proses yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai tersebut.

Pernahkah kalian berpikir mengenai kaderisasi di belahan dunia lain, seperti eropa, asia timur, atau terdekat Singapura? Faktanya kaderisasi di sana sangat jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Apabila di Indonesia menekankan tradisi sebelum bergabung menjadi anggota suatu organisasi, maka di negara lain hanya perlu registrasi online, wawancara, kemudian datang pada pertemuan pertama untuk diberikan jobdesc organisasi, sederhana bukan? Lantas apakah karena di luar negeri tanpa ada kaderisasi, bertemakan tradisi, suatu organisasi menjadi hancur lebur tak terurus? Tampaknya tidak, organisasi tetap berjalan sesuai pada track-nya.

Ngomong-ngomong soal sederhana, coba sekarang kita hitung waktu yang dihabiskan dalam proses kaderisasi di Indonesia. Proses kaderisasi memakan waktu seminimalnya kurang lebih satu bulan, pada waktu tersebut peserta kader dibebankan banyak tugas dari para panitia. Tugas-tugas tersebut dianggap sebagai perpanjangan tangan dari nilai-nilai organisasi yang ingin disampaikan. Lalu, karena tugas yang banyak, waktu yang pengumpulan yang mepet, ditambah pula kesibukan pada bidang lain (akademik, dll) maka tugas tersebut tidak terselesaikan dengan baik. Sebab tugas tidak selesai, lantas peserta dihukum dengan tugas lainnya, yang kemudian gagal lagi terus sampai sehari sebelum pelantikan. Dengan banyaknya kegagalan yang dibuat oleh peserta seolah menandakan bahwa nilai-nilai tak tersampaikan dengan baik. Selain dari sisi peserta yang menghabiskan minimal sebulan untuk menjalani kaderisasi, panitia menghabiskan waktu kaderisasi lebih lama lagi. Panitia perlu membuat konsep dari kaderisasi beserta alur dan tugasnya, kemudian panitia juga harus standby selama keberjalanan kaderisasi, panitia juga harus memantau kondisi dan pemahaman dari peserta kader juga dalam memproses tiap informasi yang diberikan, dan masih banyak lagi. Kalau dipahami secara makro, kaderisasi sangat memakan waktu bagi kedua belah pihak hanya karena ego diri terhadap tradisi yang ingin dilestarikan.

Bayangkan apabila waktu satu bulan atau lebih untuk kaderisasi beserta persiapannya digunakan untuk mendiskusikan hal-hal potensial serta inovatif yang dapat suatu organisasi akomodir. Kenapa tanpa kaderisasi? Karena banyak hal inovatif yang dapat diambil dari tiap anggota baru dengan latar belakang yang berbeda serta masih murni bebas doktrin. Gambaran singkat ini merupakan kegiatan yang biasa mahasiswa belahan bumi lain lakukan yang relatif inovatif serta bekerja secara efektif dan efisien.

Praktik organisasi pada dunia kerja sangatlah berbeda dengan praktik kaderisasi di ranah mahasiswa. Di Indonesia, selalu ditekankan bahwa senior akan selalu lebih paham mengenai cara kerja terbaik untuk organisasi, dengan bukti angkatan tua akan lebih diutamakan (bahkan selalu) untuk memimpin suatu organisasi. Padahal ketika di dunia profesional, boleh jadi kita yang sudah bekerja sepuluh tahun sebagai seorang staf akan memiliki atasan yang baru diterima oleh perusahaan. Kemudian di dunia kerja juga tidak harus yang berumur 60 tahun menjadi direktur utama, boleh jadi yang lebih muda umurnya (50 tahun ke bawah), tetapi lebih kapabel yang menjadi direktur utama.

Karena pada dasarnya hal terpenting dalam keberjalanan suatu organisasi baik bukanlah umur ataupun senioritas ataupun angkatan masuk ke suatu kampus, tetapi kecakapan dari tiap insan individu dalam berorganisasi. Beruntungnya bagi mahasiswa di belahan bumi lain yang sudah mengadopsi sistematika berorganisasi yang meniru ranah profesional sehingga pengalaman keprofesionalan telah dimiliki bahkan sebelum mulai bekerja.

Lantas dengan kondisi organisasi kemahasiswaan kampus di Indonesia yang masih menekankan tradisi dalam kaderisasi akankah masih relevan untuk mempersiapkan para anggotanya dalam menghadapi ranah profesional? Atau akan tetap dipertahankan hanya untuk egoisme diri dalam pelestarian tradisi?

Sebagai tambahan kaderisasi di sini berdasarkan perspektif anak ITB, mungkin di kampus lain agak berbeda terkait durasi dsb.

taka merupakan tulisan yang berasal dari opini, logika, ingatan, dan pengalaman gua terhadap suatu hal.

negasi dalam narasi