taka — Demokrasi ala barat dan Otoriter khas timur

Perkembangan dan kemajuan tiap bangsa tentu saling mempengaruhi satu sama lain di setiap zamannya. Pada zaman modern, kemajuan suatu bangsa banyak mencontoh berdasarkan kesuksesan bangsa barat. Aspek dijadikan pedoman cukup banyak, seperti dalam bidang ekonomi, politik, dan pemerintahan.

Sistem pemerintahan yang banyak negara barat terapkan adalah sistem demokrasi. Sistem demokrasi sendiri adalah pemerintahan yang melibatkan partisipasi dari seluruh rakyat dalam menjalankan roda pemerintahan. Implikasinya adalah pemerintah tidak dapat berlaku sewenang-wenang terhadap jabatannya sebab harus ada persetujuan dari rakyatnya dalam hal ini rakyat dapat mengontrol, mengawasi, memberikan saran, dan mengkritik hasil kerja dari pemerintah.

Secara formal suara rakyat dalam mengawasi kinerja pemerintah difasilitasi melalui suatu dewan perwakilan dari rakyat, sedangkan secara informal, pada zaman digital, masyarakat dapat menyampaikan aspirasinya melalui media sosial. Namun apabila melalui media sosial tidak digubris oleh pemerintah, tak jarang masyarakat melakukan demonstrasi di depan kantor pemerintahan sebagai upaya untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Tentu hal ini merupakan komponen yang sah dalam negara demokrasi.

Sialnya, salah satu kelemahan pada sistem demokrasi terdapat pada rakyatnya itu sendiri. Tugas rakyat yang terlibat secara langsung dalam demokrasi terkadang membutuhkan kapabilitas yang cukup tinggi dalam beraspirasi sebab kritik tanpa solusi adalah kenistaan.

Sialnya lagi, pencarian solusi tidaklah sesederhana itu. Solusi terbaik umumnya merupakan hasil dari kajian mendalam terhadap suatu persoalan. Tanpa kapabilitas, kajian hanyalah suatu kegiatan yang membosankan dan memusingkan. Ditambah lagi, setiap individu dari masyarakat memiliki kepentingan yang berbeda-beda, tampaknya akan memakan waktu yang cukup lama untuk menyatukan kepentingan dari seluruh rakyat dalam menentukan arah pemerintahan.

Penerapan demokrasi dalam negara dunia ketiga juga tampak kurang menggembirakan. Faktanya, sampai tulisan ini ditulis, belum ada satupun negara dunia ketiga yang menjadi negara maju akibat murni penerapan dari sistem demokrasi. Demokrasi yang sangat diagungkan oleh bangsa barat seolah belum menemukan titik ekuilibrium di negara dunia ketiga. Mungkin hal ini terjadi sebab syarat dari demokrasi itu sendiri yang cukup berat, yaitu kecakapan dari tiap masyarakat dalam berpartisipasi pada sistem pemerintahan. Kecakapan di sini berarti kapabel untuk mampu bertindak rasional sebagai seorang peserta demokrasi. Ya benar, mayoritas penduduk di negara dunia belum memiliki hal tersebut.

Sebagai contoh, kasus ketidakrasionalan dalam pemilihan kepala daerah, tak jarang terdapat peserta demokrasi yang memilih berdasarkan iming-iming uang yang dibagikan oleh calon kepada daerah. Tentu ini sangat tidak rasional sebab idealnya adalah rakyat memilih berdasarkan kemampuan dari calon kepada daerah bukanlah uang dari mereka.

Contoh lainnya terdapat pada kurang tepatnya penerapan dalam kebebasan beraspirasi, pada negara dunia ketiga tak jarang masyarakatnya hanya menghujat ataupun mengkritik pemerintah tanpa solusi sama sekali. Mereka hanya beraspirasi berdasarkan kepentingan mereka tanpa menimbang sama sekali kepentingan orang lain.

Kurang tepatnya penerapan dalam kebebasan beraspirasi cukup mudah ditemukan pada berbagai kanal sosial media. Tak jarang aspirasi ‘asal-asalan’ ini membuat situasi di masyarakat tidak kondusif terlebih kalo buzzer sudah ikut campur. Jelas bahwa rakyat yang cerdas dalam beraspirasi tidak akan menimbulkan kegaduhan dalam masyarakat. Serta masyarakat yang cerdas pula tidak akan mudah untuk terprovokasi.

Mungkin belum ketemunya titik ekuilibrium dalam penerapan sistem demokrasi pada negara dunia ketiga sebab karakteristik masyarakat yang sangat berbeda dengan negara barat, khususnya pada hal kecakapan berpikir rasional.

Keadaan di Timur

Perihal sistem pemerintahan bangsa barat yang belum cocok dengan negara dunia ketiga, sebenarnya terdapat model lain dari sistem pemerintahan yang cukup sering ditemui oleh bangsa timur, yaitu sistem pemerintahan otoriter. Sistem pemerintahan ini sangat berlawanan dengan demokrasi yang keputusannya sangat bergantung pada rakyat. Sistem otoriter menetapkan segala keputusan berada pada kekuasaan tertinggi dalam hal ini berarti kepala pemerintahan. Pemerintah adalah pemimpin mutlak dalam segala urusan dan putusan dari tiap kebijakan. Sistem ini dapat dikatakan sangat bergantung pada keinginan dari pemerintah itu sendiri, akan sangat beruntung jika pemerintah menginginkan suatu kemajuan bagi bangsanya.

Negara timur yang pernah atau sedang menjalankan sistem pemerintahan berbasis otoriter kemudian berhasil bertransformasi menjadi negara maju adalah Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan China. Di bawah kepemimpinan Lee Kuan Yew (Perdana Menteri Singapura), Park Chung-hee (Presiden Korea Selatan), Chiang Kai-shek (Presiden Taiwan), dan Deng Xiaoping (Presiden China) masing-masing pemimpin negara tersebut dapat mengambil langkah dan momen yang tepat melalui kemampuan otoriter mereka untuk memajukan negara mereka.

Singapura mungkin tidak akan membuka pelabuhannya untuk perdagangan internasional serta menjadi negara yang ramah investasi, jika bermusyawarah terlebih dahulu bersama seluruh rakyatnya mengingat geopolitik saat itu sangat berhati-hati terhadap bangsa barat yang baru saja memerdekakan negara dunia ketiga.

Jika Presiden Park dengan kekuasaan otoriternya tidak mengizinkan superioritas Chaebol sebagai penggerak ekonomi utama Korea Selatan sebab akan ada kemungkinan ditolak oleh rakyatnya saat itu, mungkin pula Korean Wave tidak akan pernah ada sekarang.

Tanpa ada tangan besi dari pemerintah yang otoriter, melakukan Land reform adalah hal yang sulit yang kemungkinan besar akan ditolak oleh masyarakat, sehingga tanpa hal tersebut mungkin Taiwan tidak akan menjadi Four Asian Tigers.

Kebijakan Deng Xiaoping yang sangat bertolak belakang dengan pendahulunya yaitu Mao Zedong dalam membuka dan mengizinkan investasi asing untuk masuk ke negaranya, mungkin tanpa perubahan ini China tidak akan pernah menjadi penantang homogeni Amerika sebagai raksasa ekonomi.

Keempat negara timur tersebut tampak cukup beruntung pernah memiliki pemimpin otoriter yang berkepentingan untuk memajukan bangsanya. Sayangnya pemerintahan otoriter tidak berjalan mulus di timur tengah. Penerapan pemerintahan otoriter banyak menimbulkan kesengsaraan bagi rakyatnya sebab korupsi yang dilakukan oleh pejabat pemerintahnya. Pemerintah seolah tutup mata dari kemajuan bangsa lain dalam metode memimpin untuk kemajuan negaranya, sehingga para pejabatnya tampak mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan rakyatnya.

Akhirnya dua sistem ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang membedakan adalah titik berat pada rakyat untuk demokrasi dan pemerintah pada otoriter. Kedua sistem ini sama-sama dapat memajukan suatu bangsa ataupun menghancurkannya jika titik berat yang tidak melakukan tugasnya dengan baik. Pada intinya, dua sistem ini ada untuk memajukan bangsanya dan menyejahterakan rakyatnya yang penerapannya bergantung pada pengaruh politik internasional.

taka merupakan tulisan yang berasal dari opini, logika, ingatan, dan pengalaman gua terhadap suatu hal.

negasi dalam narasi