Bermula dari rasa penasaran mengenai faktor yang mempengaruhi kemajuan suatu daerah. Rasa penasaran ini tumbuh berkembang dari SMA sampai kuliah yang menghasilkan simpulan sementara mengenai faktor dasar atau yang paling berpengaruh. Hasilnya adalah faktor lingkungan memiliki pengaruh terbesar dalam kemajuan suatu daerah. Simpulan ini didapatkan berdasarkan pengalaman, pengamatan, dan wawancara nonformal (baca: ngobrol santuy) ke beberapa teman yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda.

Kamus khusus: kemajuan daerah yang dimaksud adalah yang berdasarkan kepada kemajuan modern yang dapat ditinjau dari tingkat pendidikan yang diukur berdasarkan capaian belajar (prestasi akademik-nonakademik dan persentase jenjang pendidikan) dan antusiasme terhadap aktivitas kegiatan sosial untuk menyelesaikan permasalahan di masyarakat (karang taruna, OSIS, dll). Kemajuan relatif seperti yang terjadi di masyarakat adat berada di luar topik ini.

Faktor lingkungan dibagi jadi dua hal, lingkungan pendidikan dan lingkungan rumah dengan asumsi kedua hal ini merupakan lingkungan yang memiliki intensitas interaksi tertinggi dalam kegiatan sehari-hari, sehingga dapat dijadikan acuan sebagai pembentuk kepribadian seseorang yang signifikan.

Lingkungan pendidikan merupakan hal esensial dalam kehidupan modern. Peradaban barat memiliki banyak penemuan ilmiah karena baiknya capaian belajar peserta didik. Kualitas pendidikan di Indonesia sendiri dapat dikatakan belum sebaik pendidikan barat tetapi dapat dikatakan sedang menuju ke arah sana. Terdapat beberapa permasalahan dalam lingkungan pendidikan di Indonesia yang membuat capaian belajar kurang maksimal, yaitu pengaruh teman, kualitas guru, dan fasilitas pendukung.

Lingkungan pertemanan khususnya di sekolah memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk karakter seseorang. Banyak fenomena yang gua liat teman-teman yang toxic menghambat perkembangan seseorang ke arah yang positif. Contoh kasus, persiapan UTBK-SBMPTN teman-teman di pedesaan atau suburban cukup banyak ditemui anak-anak SMA yang belum sadar akan pentingnya berkuliah sehingga mereka memengaruhi teman mereka yang ingin mempersiapkan (tujuan hidupnya berbeda dengan mereka) ujian tersebut dengan cara mengucilkan, memusuhi, dan bahkan sampai mem-bully teman sepermainan mereka yang belajar untuk UTBK-SBMPTN. Kasus lainnya adalah lingkungan pertemanan yang kerjaannya hanya bermain saja dan menolak untuk belajar, mereka dapat menjadi lingkungan yang tidak baik bagi teman sepermainannya ataupun teman kelasnya seperti mengganggu jalannya kegiatan belajar mengajar di kelas dengan ribut atau menghalangi teman yang ingin belajar dengan mengajak bermain game, nongkrong di mall, atau melakukan kegiatan sia-sia lainnya (kalo menolak akan dimusuhi sekelas atau bahkan seangkatan). Terdapat juga sekelompok pertemanan yang tidak suka atau bahkan benci dengan kegiatan sosial positif seperti OSIS tanpa alasan yang jelas. Pertemanan seperti yang telah dijabarkan dapat mempengaruhi seseorang yang memiliki kebiasaan mengikuti arus atau kurang memiliki pendirian.

Guru merupakan pembangun fondasi materi bagi siswa. Kurikulum 2013 (K-13) menjadikan guru sebagai fasilitator, sehingga ilmu pengetahuan diharapkan dicari sendiri oleh tiap-tiap siswa. Namun, bukan berarti guru tidak memberikan atau menjelaskan materi dasar kepada siswanya karena balik lagi materi dasar sangat penting sebagai fondasi dari suatu ilmu pengetahuan. Fakta di lapangan menunjukan, K-13 dijadikan alasan guru untuk ‘malas’ mengajar kepada siswa yang akhirnya guru hanya memberikan tugas atau file powerpoint kepada siswa tanpa ada penjelasan lebih lanjut mengenai materi tersebut. Akibatnya tidak semua murid dapat memiliki fondasi yang kuat terhadap suatu materi, sehingga pengalaman belajar menjadi tidak menyenangkan (bahkan cenderung menyiksa). Pada kasus lain, terdapat guru-guru yang tidak kapabel dalam mengajar. Contohnya terdapat guru bersarjana sejarah yang mengajar mata pelajaran kimia. Pada lain kasus, banyak juga ditemukan guru yang tidak disiplin. Seperti mereka datang terlambat ke kelas atau tidak mengajar pada jam pelajaran. Bahkan ditemukan kasus guru toxic yang tidak mendukung perkembangan siswanya dan cenderung ingin menjatuhkannya. Misalnya guru BK yang tidak mendaftarkan siswanya jalur SNMPTN karena mereka menganggap tidak akan lolos dari jalur tersebut atau guru yang merendahkan siswanya dengan menganggap mereka tidak mampu untuk lolos SBMPTN. Bagaimanapun peran guru dalam lingkungan pendidikan tidak dapat dilepaskan sehingga guru harus memiliki kualitas yang baik.

Sarana dan prasarana sekolah sangat penting dalam mempercepat dan mempermudah siswa ataupun guru dalam mengeksplorasi pengalaman belajar yang efektif dan efisien. Sampai saat ini belum ada satupun sekolah negeri (yang tanpa embel-embel unggulan) yang memiliki fasilitas selengkap di sekolah negeri Jepang. Tiap sekolah negeri di Jepang memiliki fasilitas lapangan indoor, outdoor, beberapa aula pertemuan, dan kolam renangnya sendiri. Fasilitas dari tiap ruang kelas juga seragam dan lengkap untuk memenuhi kebutuhan siswa maupun guru di sana. Di Indonesia sekolah yang memiliki fasilitas lengkap biasanya hanya terdapat di sekolah swasta mahal dan sekolah internasional. Kurang tersedianya fasilitas yang memadai tentu dapat mengurangi pengalaman belajar bagi siswa dalam memahami suatu materi pelajaran.

Lingkungan rumah melingkupi keluarga dan tetangga. Kedua (atau at least salah satu) cakupan ini berpengaruh pada pembentukan perilaku individu baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Di desa atau daerah suburban masih terdapat keluarga yang tidak mendukung anaknya untuk menempuh pendidikan dengan berbagai macam alasan. Para orang tua ini melarang anaknya untuk menempuh pendidikan biasanya karena kurangnya informasi mengenai pendidikan itu sendiri. Mereka sering mengasumsikan pendidikan sama dengan uang karena mereka tidak (atau kurang) memiliki uang sehingga mereka melarang anak mereka untuk bersekolah. Padahal terdapat banyak beasiswa untuk orang kurang mampu ketika sedang menempuh pendidikan. Ada juga keluarga broken home sehingga anak mereka mengalami trauma psikis. Terdapat pula keluarga yang tidak siap atau kurang memiliki pengetahuan mengenai ilmu parenting sehingga tidak mengerti cara mendidik anak. Akibat dari hal ini, orang tua biasanya memilih jalan pintas dengan menikahkan anaknya atau menyuruh anaknya untuk menjadi buruh.

Faktor tetangga merupakan elemen tidak langsung yang membentuk suatu individu. Tidak dapat dipungkiri banyak lingkungan tetangga toxic di masyarakat Indonesia. Terdapat tetangga yang tidak suka dengan kesuksesan tetangganya dalam berjualan sampai melakukan santet kepada anggota keluarga tetangganya tersebut. Kasus lain, ada tetangga yang kerjaannya memamerkan harta keluarga besarnya (entah itu paman, kakek, sepupu, dll) ke pada tetangganya padahal dia termasuk golongan biasa aja. Tetangga tukang gosip yang akan menggosipkan siapapun ketika ada kesempatan. Lingkungan bertetangga yang tidak kondusif dapat memengaruhi kehidupan di setiap keluarga. Sebagai contoh, lingkungan tetangga yang kerjaannya hanya bergosip antar tetangga dan tidak pernah memikirkan sekolah anaknya akan menyebabkan anak mereka tidak memiliki semangat belajar baik sehingga kegiatan belajar mengajar tidak menjadi menyenangkan bagi si anak.

Untuk menghindari pengaruh dari faktor lingkungan yang ada di masyarakat bisa dengan pindah dari lingkungan tersebut atau alternatif lain adalah menjadi pribadi yang memiliki imunitas sosial kuat (baca: tidak terpengaruh) sehingga dengan lingkungan yang demikian tetap dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Perlu diingat, memiliki imunitas sosial kuat dapat menjadi tantangan tersendiri bagi tiap orang.

taka merupakan tulisan yang berasal dari opini, logika, ingatan, dan pengalaman gua terhadap suatu hal.

negasi dalam narasi